Posts

Panti Asuhan Harus Berdayakan Keluarga Anak Tidak Mampu

JAKARTA – Manager Child Centre Indonesia (CCI) Herni Ramdlaningrum menjelaskan, program pemberdayaan dan revitalisasi peran panti asuhan merupakan usaha memenuhi hak-hak dasar anak.

“Peran panti asuhan bukan untuk mencabut hak anak dari keluarganya, tetapi menjadi memberdayakan keluarga,  mengingat pengasuhan terbaik bagi anak adalah di tengah keluarga, dan perlu digaris bawahi, program ini bukan untuk mengkerdilkan peran panti asuhan, malah sebaliknya semakin membuat peran panti asuhan semakin luas di masyarakat,”kata Herni di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, (07/08/2012).

Gerakan ini sebagai bukti konkret dari semua kebijakan anak yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Kemudian, lanjutnya, nanti akan disodorkan hasil dari pilot project yang dilakukan sejak Februari 2012 lalu hingga Januari 2013 mendatang.

“Kita tunjukkan pada pejabat bagaimana mengembalikan hak-hak anak secara utuh sebagai pemberdayaan masyarakat,”ungkap Herni.

CCI memilih memberdayakan anak dan keluarganya agar tak bergantung pada bantuan dari luar. Cara kongkret yang dilakukan ialah membekali pelatihan agar mereka memiliki usaha sendiri hingga keluarga tersebut siap untuk mandiri.

“Aset kita tak sebatas anak asuh tapi juga penguat akar pemikiran anak agar kelak bisa mengasuh anaknya sendiri,”ujarnya.

Program yang telah disusun CCI berbasis data empirik penelitian UNICEF tahun 2009-2010. Tercatat sebanyak 98 persen anak panti masih mempunyai keluarga.

Lalu, 97 persen berkeinginan pulang ke keluarganya. Didapati pula kepadatan penghuni panti terjadi dengan alasan kondisi ekonomi keluarga yang minim.

Di sisi lain, jelas Herni, panti masih bisa dipercaya bisa membangun karakter anak dan tempat rujukan asuh yang bebas dari kekerasan.

Herni menuturkan, sebagai pilot project awal, pihaknya menggandeng dua panti asuhan di Surabaya dan Depok. Sekaligus membina 60 keluarga rentan di sekitar Panti Pakis, Surabaya, dan Pamulang. Biayanya ditanggung dari donatur LAZISMU.

“Rencana lima tahun ke depan, penempatan anak di panti sebagai pilihan terakhir masyarakat mengasuh anaknya,”ujar Herni.

Muhammadiyah Canangkan Pemberdayaan Panti Asuhan

JAKARTA – Majelis Pelayanan Sosial (MPS) serta LAZISMU PP Muhammadiyah meluncurkan program penguatan pemberdayaan anak dan keluarga di 400 panti asuhan lingkungan Muhammadiyah-Aisiyah.

Pasalnya, fakta bahwa Panti asuhan kerap identik dengan tempat penampungan anak-anak yang kurang beruntung. Sudut pandang itu justru menjadikan anak asuhan kurang produktif.

“Child Centre Indonesia (CCI) dibentuk dalam rangka mewujudkan cita-cita besar Muhammadiyah untuk merevitalisasi peran panti asuhan dan usaha memenuhi hak dasar anak,”Terang Ketua PP Muhammadiyah Bidang Sosial Syafiq Mughni di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Selasa (7/8/2012).

Menurutnya, rencana strategis pola pengasuhan sangat diutamakan dalam proyeksi CCI yang dibentuk pertengahan Februari lalu. Sehingga sifatnya bukan hanya penempatan anak-anak atau residensial.

Lebih lanjut, program ini juga memperhatikan aspek lainnya. Seperti pelayanan sosial, ekonomi, dan pendidikan anak serta santunan keluarga yang anaknya berada di panti asuhan.

“Program-program yang dilakukan mengarah pada penguatan keluarga anak panti agar mandiri secara ekonomi dan pengembangan peran panti asuhan agar anak memiliki hak penuh berada bersama keluarganya,”sambut Syafiq.

Ketua MPS PP Muhammadiyah Sularno menjelaskan, perluasan peran panti tadi sekaligus mengubah paradigma pengasuhan panti menuju pengasuhan berbasis keluarga. Bukan terfokus pada anak saja, ujarnya, tapi juga melakukan pendampingan keluarga rentan untuk meningkatkan kapasitas ekonomi dan parenting skill.

“Selain menyusun SOP panti, ada juga pelatihan relawan serta pemberian bantuan modal usaha, berikut media kampanye dan koordinasi jaringan anak,”jelas Sularno.

Sularno menambahkan, MPS dengan jaringan nasional serta internasional juga melakukan pengembangan model pengasuhan dan perluasan lembaga panti asuhan.