Posts

Ingin Membuat Kebijakan Panti Asuhan, MPS PP Muhamamdiyah Lakukan Penelitian

penelitian-mpsKetersedian data pembanding serta ingin mengetahui kondisi aktual panti asuhan menjadi dasar MPS PP Muhammadiyah melakukan penelitian terkait pelayanan dan managemen panti asuhan. Hasil penelitian tersebut menjadi salah satu dasar MPS PP Muhammadiyah dalam membuat kebijakan terkait standar pelayanan panti asuhan.

Widhiyanto salah satu tim peneliti menyatakan, lokasi penelitian diakan di Surabaya dengan jumlah panti yang akan diteliti sebanyak 7 Panti asuhan. Penelitian menggunakan metodologi wawancara terstruktur dengan pertanyaan tertutup, wawancara semi terstruktur dengan pertanyaan terbuka dan wawancara informal, yaitu mengenai permasalahan yang ada di Panti dan lingkungan Muhammadiyah dan Aisyiyah tentang pengasuhan dan manajemen panti asuhan. Terkait tujuan melakukan penelitian, Widhy menyatakan ada empat tujuan diadakannya pelatihan yaitu mengidentifikasi permasalahan. Menciptakan program atau merevisi-nya. Memperbaiki komponen program serta meniai efektivitas program. Penelitian akan menjadikan anak, pengasuh, orangtua, pengurus panti asuhan sebagai responden.

Dari hasil penelitian terungkap beberapa data diantaranya. Alasan mengapa orangtua memasukan anak kedalam panti, Alasan ekonomi, yaitu kerentanan ekonomi, sebagian besar keluarga yang menitipkan anaknya ke dalam Panti adalah keluarga miskin yang berpenghasilan rata-rata 500.000 rupiah per bulan. Alasan pendidikan yang lebih baik, keluarga yang menitipkan anaknya ke Panti memiliki persepsi bahwa jika di Panti tentu pendidikan anak mereka lebih baik karena ada fasilitas pengembangan pendidikan minta dan bakat. Alasan ketiga adalah Panti Asuhan dapat dijadikan tempat rujukan bagi anak-anak yang mengalami korban kekerasan rumah tangga. Alasan keempat adalah Panti Asuhan adalah tempat menerima rujukan bagi anak-anak yang dikahwatirkan terlantar atau sudah terlantar karena keluarga yang kurang harmonis. Alasan kelima adalah Panti Asuhan dipandang sebagai lembaga yang mampu memenuhi kebutuhan pengasuhan (keterampilan kepengasuhan-parenting skill) yang terbaik bagi anak.

Terkiat managemen pelayanan ditemukan data diantara. Praktek layanan personal. Anak tidak memiliki kebebasan untuk memilih sekolah/jurusan sesuai dengan minat dan keinginannya. Tidak ada buku kasus anak yang dapat dilihat orangtua. Tidak ada jadwal tetap bagi orang tua untuk bertemu anaknya. Tidak ada akses bermain di luar panti. Kondisi mental anak yang tidak percaya diri, tidak dapat menyatakan pendapat/ekspresi. Praktek Manajemen Pengurus dan Staf. Tidak terdapat standar rekrutmen staf (termasuk standar calon pengasuh). Tidak terdapat perencanaan untuk peningkatan kesejahteraan pengasuh dan staf. Tidak ada kontrak kerja setelah calon staf diterima. Tidak ada audit publik terhadap kinerja Panti (keuangan). Belum memiliki sistem rujukan. Kondisi lingkungan sekitar kurang mendukung (terkait dengan lokasi Panti, dukungan masyarakat).

Kolaborasi MPS PP Muhammadiyah, Kementerian Koordinator Bidang Kesejateraan Rakyat, Kemitraan Untuk Pendampingan Anak Jalanan

Kolaborasi_MPS_PP_Muhammadiyah_Kementerian_Koordinator_Bidang_Kesejateraan_RakyatSalah satu permasalahan sosial yang cukup menyita perhatian seluruh anak bangsa maupun pemerintah adalah fenomena anak yang bekerja di jalanan yang kemudian populer dengan istilah anak jalanan. Hasil Survei dan Pemetaan Sosial Anak Jalanan yang dilakukan oleh Unika Atmajaya Jakarta di 12 Kota Besar di Indonesia pada tahun 1999 menyebutkan jumlah anak jalanan adalah 39.861 orang. Dari hampir 40 ribu anak jalanan tersebut, 48 persen adalah anak-anak yang baru turun ke jalanan sejak tahun 1998 atau setelah terjadinya krisis moneter. Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa populasi anak jalanan sebelum krisis adalah sekitar 20 ribu anak. Berdasarkan survey itu terungkap pula bahwa alasan dari sebagian besar anak- anak bekerja di jalan setelah terjadinya krisis ekonomi adalah karena membantu pekerjaan orang tua (35 persen) dan menambah biaya sekolah (27 persen). Pada tahun 2002 jumlah anak jalanan mengalami peningkatan lebih dari 100% dibandingkan angka tahun 1998. Menurut hasil Susenas yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bekerjasama dengan Pusdatin Kesos pada tahun 2002 jumlah anak jalanan melonjak menjadi 94.674 orang. Salah pertanyaan dasar yang kita semua belum bisa mendapat jawaban secara pasti adalah kapan Indonesia bisa terbebas dari fenomena anak jalanan (anak jalanan) meskipun Kementerian Sosial berani membuat pernyataan Indonesia bebas anak jalanan pada tahun 2014 namun kenyataannya menjelang tahun 2014 kita masih bisa melihat secara mudah tanpa ada halangan anak anak melakukan aktivitas ekonomi di jalanan.

Beranjak dari realitas tersebut, Majelis Pelayanan Sosial Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui dukungan Kemitraan dan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Raykat mencoba memberikan kontribusi sosial dalam rangka mengurangi dampak negatif jalanan bagi anak beserta orangtuanya melalui berbagai aktivitas dalam bingkai Peningkatan Kualitas Hidup dan Akses Pelayanan Dasar Anak Yang Bekerja Dijalanan dan Orangtua Anak Yang Bekerja Dijalanan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Peduli.
Ibnu Tsani Program Manager PNPM Peduli memberikan informasi, secara umum konsep dasar program diarahkan kepada memfasilitasi akses hak dasar warga negara seperti akse pendidikan, kesehatan, identitas anak. Selain itu akses sumberdaya ekonomi serta tumbuh kembang anak juga menjadi salah satu fokus isu program. Tantangan terbesar dalam program menurut Ibnu Tsani adalah program yang kami kelola berdasarkan aturan main yang kami kelola adalah dana program tidak bisa dipergunakan untuk modal usaha dan membangun. Selain itu, membangun sinergi dengan Pemerintah Provinsi D.K.I Jakarta terutama terkait akses pelayanan hak dasar juga menjadi tantangan tersendiri. Kami optimis tantangan tersebut bisa diselesaikan.

Jasra Putra Program Officer PNPM Peduli menambahkan informasi, bahwa melalui program yang kami selama setahun bersama 300 anak dan 300 orangtua anak, kami berupaya mengurangi anak beraktivitas dijalanan melalui berbagai kegiatan yang telah disusun seperti pelatihan seni musik, futsal, bimbingan belajar. Sedangkan untuk orangtua anak, selain memfasilitasi akses sumberdaya ekonomi kami mencoba memberikan pemahaman kepada orangtua tentang bahaya anak beraktivitas dijalanan serta bagaimana memahmai pola pengasuhan yang terbaik untuk anak. Pemahaman tersebut kami fasilitasi melalui kegiatan Pelatihan Pengasuhan, Konseling dan Home Visit untuk anak dan orangtua. Untuk mengelola program kami menggandeng dua Rumah Singgah yakni Rumah Singgah Balarenik dan Rumah Singgah SWARA. Lokasi program berada di Cakung dan Jatinegara.

Jaminan Kesehatan Untuk 300 Keluarga Anak Jalanan

Layanan kesehatan merupakan salah satu permasalahan klasik yang masih menjadi daftar masalah dalam kehidupan orang tua anak yang bekerja dijalanan. Menerima layanan kesehatan terutama di rumah sakit bagi orangtua ternyata masih menjadi mimpi yang sulit untuk diwujudkan. Beranjak dari realitas tersebut serta pengalaman, Majelis Pelayanan Sosial PP Muhammadiyah menjadikan akses hak atas dasar kesehatan sebagai salah satu prioritas kegiatan Peningkatan Kualitas Hidup dan Akses Pelayanan Dasar Anak Yang Bekerja Dijalanan dan Orangtua Anak Yang Bekerja Dijalanan.

Endang Mintaraja, Ketua Rumah Singgah Sakinah sekaligus Koordinator Area Program menjelaskan, fokus advokasi akses layanan kesehatan dimulai melakukan pendataan nama-nama kelompok sasaran yang belum mendapatkan layanan jaminan kesehatan lengkap dengan nama anggota keluarga, alamat dan kartu tanda penduduk. Selesai melakukan pendataan tahapan selanjutnya adalah melakukan verifikasi data. Setelah data diselesaikan tahapan berikutnya adalah membawa aspirasi kelompok sasaran program pada Acara Sosialisasi Program.

Sementara itu, Ibnu Tsani Program Manager untuk PNPM Peduli melalui forum Sosialisasi Program yang berlokasi di Gedung Pusat Keguruan Jatinegara Jakarta Timur menyampaikan informasi kepada peserta yang berasal dari unsur Pemerintah Jakarta Timur menyatakan kegiatan Peningkatan Kualitas Hidup dan Akses Pelayanan Dasar yang diperuntukan anak yang bekerja dijalanan dan orangtua anak yang berkerja dijalanan memiliki beragam fokus isu diantaranya pendidikan, kesehatan, sumberdaya ekonomi dan tumbuh kembang anak. Terkait isu kesehatan, Ibnu menyampaikan informasi tentang tekhnis bagaimana agar keluarga anak yang bekerja dijalanan mendapat akses layanan jaminan kesehatan. Suku Dinas Kesehatan Jakarta, unsur pemerintah yang turut hadir dalam acara sosialisasi menjelaskan bahwa wewenang untuk menerbitkan kartu atau sertifikat berada di Dinas Kesehatan Provinsi namun Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur menyatakan siap membantu membuat surat rekomendasi atau menjalin komunikasi terkait keinginan Muhammadiyah.

Menindaklanjuti Informasi dari acara Sosialisasi Program, Jasra Putra Program Officer PNPM Peduli dalam acara Pertemuan Antar Stakeholders memaparkan tentang fokus isu layanan kesehatan dan informasi berdasarkan yang Muhammadiyah dapatkan dari Sudin Kesehatan Jakarta Timur. Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta salah satu peserta kegiatan menjalaskan, siap membantu dan memfasilitasi Muhammadiyah dalam memenuhi akses kesehatan untuk keluarga anak jalanan. Forum Pertemuan Antar Stakeholders kemudian ditindaklanjuti dengan audiensi dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Dari audiensi itu akhirnya didapatkan informasi bahwa ada dua jenis produk kesehatan yang diperuntukan bagi masyarakat. Pertama, JPK GAKIN (Jaringan Pengaman Kesehatan Keluarga Miskin) yaitu akses pelayanan kesehatan yang tidak dibebankan biaya sama sekali. Kedua, Jaringan Pengaman Kesehatan Rentan yaitu akses pelayanan kesehatan yang dibebankan premi sebesar Rp. 50.000/bulan. Pada jenis yang kedua ini, apabila peserta mengalami gangguan kesehatan berat, maka semua biaya pengobatan akan dibayarkan dari premi yang telah terkumpul dan sisanya dilunasi oleh Pemerintah DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan. Setelah audiensi tersebut, Muhammmadiyah menyerahkan data kelompok sasaran program kepada Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Data tersebut menurut pihak Dinas Kesehatan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukan verifikasi karena tidak memiliki data kependudukan, sehingga harus menggunakan data pembanding milik Badan Pusat Statistik.

Setelah menunggu waktu lebih dari enam bulan, untuk mempercepat proses realisasi jaminan kesehatan, Dinas Kesehatan memutuskan untuk mengeluarkan sertifikat piagam kelembagaan pengelolaan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Keluarga Miskin yang langsung ditunjukan kepada Rumah Singgah Sakinah.

Pelatihan Seni Musik Anak Yang Bekerja Dijalanan

Pelatihan_Seni_Musik_Anak_Yang_Bekerja_DijalananMusik, dunia serta kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari keseharian anak yang bekerja dijalanan. Melalui musik, anak berkreatifias, berekspresi hingga alat mencari nafkah. Karena menjadi aktivitas yang tidak bisa dipisahkan dari anak yang bekerja dijalanan, MPS PP Muhammadiyah mencoba menjadikan musik sebagai bagian dari aktivitas peningkatan kualitas dan akses pelayaan dasar bagi anak yang bekerja dijalanan.

Melalui kegiatan musik diharapkan bisa mengalihkan anak atau setidaknya mengurangi aktivitas dijalanan, demikian pernyataan Endang Mintarja Koordinator Area Program. Endang juga menambahkan, pelatihan seni musik diharapkan bisa menjadi ajang bagi untuk meningkatan kemampuan bermusik serta menjadi ajang untuk bisa mengenal karkater antar sesama teman sebaya mereka karena diharapkan anak – anak bisa bergabung bermain musik secara berkelompok (band) sesuai keinginan mereka, singkat kata menurut Endang melalui kegiatan pelatihan musik anak memiliki akses untuk mengasah bakat dan potensi dalam bermusik serta menjadi sarana untuk membangun karakter anak untuk bekerja sebagai sebuah team. Dendi Alfian, pelatih pelatihan musik menyatakan, pelatihan untuk anak terdapat dua tahapan pertama teori dan praktik. Sesi Materi anak diperkenal mengenal bagian dari alat-alat musik, gitar, drum, bass, serta bagiamana memainkan alat-alat musik tersebut serta kunci dan ketukan dasar dari setiap alat musik. Selain teori tentang alat musik, anak yang menjadi peserta pelatihan juga menerima teori tengang olah vokal. Sessi praktik ,anak langsung mempraktikan setiap alat musik sesuai dengan teori yang menerima dapatkan, praktik memainkan alat musik dilakukan secara individu serta berkelompok. Sesi praktik juga dilengkapi dengan setiap anak secara individu serta kelompok memainkan lagu tertentu. Terkait dengan target peserta pelatihan, Dendi menyampaikan pelatihan akan diikuti oleh 300 anak. Dendi juga menyatakan dari pelatihan musik diharapkan bisa dibentuk enam kelompok band, 1 kelompok paduan suara.

Album Simfoni Harapan, Sebuah Persembahan Kreatifitas Untuk Anak Yang Bekerja DIjalanan

Album_Simfoni_Harapan_Sebuah_Persembahan_Kreatifitas_Untuk_Anak_Yang_Bekerja_DIjalananMusik, Dunia idaman bagi anak jalanan. Ketertarikan anak jalanan terhadap musik terekam dalam aktivitas bermusik melalui bendera kegiatan Peningkatan Kualitas Hidup dan Akses Pelayanan Dasar Anak Yang Bekerja Dijalanan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM Peduli) yang didukung oleh Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Kemitraan.

Berawal dari kegiatan pelatihan musik yang diperuntukan untuk 300 anak jalanan, Album Simfoni Harapan berhasil diwujudkan setelah melawati proses selama satu tahun. Sebelum masuk studio rekaman, anak jalanan terlebih dahulu mengikuti pelatihan seni musik dengan materi pelatihan mengenal alat musik, teknik dasar bermain gitar, bass, drum dan olah vokal. Proses pelatihan dilakukan selama enam bulan. Enam bulan berlalu, tahapan berikutnya adalah memberikan informasi kepada anak-anak tentang seleksi team musik dalam rangka proses rekaman album. Pengumuman tersebut, berdampak terhadap kegiatan pelatihan seni musik menjadi salah satu kegiatan yang penuh sesak oleh kehadiran dan memainkan alat musik oleh anak anak pada saat sesi latihan dan seleksi.

Setelah melawati waktu tiga bulan, akhirnya terpilih 29 anak untuk membentuk 1 grup vokal, 5 grup band dan 1 solo vokal. Bertempat distudio musik Chic dan Doors Studio proses rekaman album berjalanan selama tiga bulan. Album Simfoni Harapan terdiri dari 7 judul lagu (PNPM Peduli-Anak Yang Bekerja Dijalanan, Ku Kejar Citaku, Semangat Membara, Satu Terbaik Untuk Ku, Teman, Peri Kecilku, Jika Tanpamu Ibu). Ketujuh lagu merupakan ciptaan Dendi Alfian, Efa, Berly, Irza Blast yang merupakan team pendamping anak-anak selama kegiatan program berlangsung.

Dendi Alfian, pelatih musik sekaligus penicpta lagu di album Simfoni Harapan menyatakan, proses terberat selama proses seleksi, latihan serta rekaman adalah bagaimana menyatukan karakter anak agar mereka bisa kompak menjadi sebuah team. Selain itu mengatur waktu jadwal latihan dan proses rekaman juga menjadi pekerjaan yang cukup menyita perhatian, hal tersebut terjadi karena susahnnya menyatukan waktu anak mengingat terkait aktivitas keseharian anak. Selanjutnya, Dendi juga berharap Majelis Pelayanan Sosial PP Muhammadiyah bisa segera merealisasikan album dalam bentuk keping CD serta membantu proses promo album.