Twitter-Icon-PNG-02771

Lotte Group Melalui Copion Sponsori It Center, Rumah Singgah Swara MPS PP Muhammadiyah

mps-itcenter

Doc. MPS PP Muh / Swara Peduli

Jakarta – Lotte Group, perusahaan raksasa asal Korea Selatan bekerjasama dengan COPION (COOperation & Participation in Overseas NGO’s), salah satu organisasi nirlaba asal Korea Selatan, tanggal 28 Oktober ini secara resmi menyerahkan bantuan penunjang fasilitas pendidikan untuk Rumah Singgah Swara binaan Majelis Pelayanan Sosial Pimpinan Muhammadiyah (28/10/2013).

Bantuan berupa 19 atau beberapa unit computer serta beberapa peralatan IT lainnya yang diserahkan secara simbolik oleh President Director Lotte Avenue, Mr. Suh Chang Suk, diharapkan dapat menunjang kegiatan pendidikan dan menambah skill para siswa yang dibina Rumah Singgah Swara.

“Program ini merupakan salah satu wujud nyata dari lotte untuk memberikan peluang dan kesempatan bagi anak-anak Indonesia untuk maju dan berkembang. Semoga dengan adanya bantuan computer ini, dapat mempermudah anak-anak untuk belajar dan mengembangkan skill yang diperlukan untuk masa depan mereka” jelas Mr. Suh Chang Suk.

Adapun Rumah Singgah SWARA yang dinaungi oleh Pimpinan Pusa Majelis Pelayan Sosial PP Muhammadiyah sejak didirikan tahun 1999 telah membina dan mendampingi sebanyak 700 anak jalanan. Pembinaan dilakukan dengan berbagai strategi yaitu pembinaan dan pendampingan langsung kepada anak serta penguatan kapasitas dan kesadaran orangtua. Beberapa program yang dilakukan secara langsung mengarah pada pemenuhan hak dasar anak antara lain:

  1. Membuatkan akte lahir
  2. penyediaan akses pendidikan untuk anak
  3. Penyediaan akses kesehatan untuk anak dan keluarga
  4. Penyediaan tambahan nutrisi anak
  5. Konseling anak
  6. Pelatihan keterampilan hidup untuk orangtua
  7. Penyediaan akses modal usaha untuk orangtua
  8. Penyediaan akses keterampilan khusus untuk anak
  9. Penyediaan media sarana kreatifitas untuk anak

IT center yang akan diresmikan pada tanggal 28 Oktober 2013 merupakan pengembangan program yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam bidang keterampilan teknologi dan informasi.

Kolaborasi MPS PP Muhammadiyah, Kementerian Koordinator Bidang Kesejateraan Rakyat, Kemitraan Untuk Pendampingan Anak Jalanan

Kolaborasi_MPS_PP_Muhammadiyah_Kementerian_Koordinator_Bidang_Kesejateraan_RakyatSalah satu permasalahan sosial yang cukup menyita perhatian seluruh anak bangsa maupun pemerintah adalah fenomena anak yang bekerja di jalanan yang kemudian populer dengan istilah anak jalanan. Hasil Survei dan Pemetaan Sosial Anak Jalanan yang dilakukan oleh Unika Atmajaya Jakarta di 12 Kota Besar di Indonesia pada tahun 1999 menyebutkan jumlah anak jalanan adalah 39.861 orang. Dari hampir 40 ribu anak jalanan tersebut, 48 persen adalah anak-anak yang baru turun ke jalanan sejak tahun 1998 atau setelah terjadinya krisis moneter. Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa populasi anak jalanan sebelum krisis adalah sekitar 20 ribu anak. Berdasarkan survey itu terungkap pula bahwa alasan dari sebagian besar anak- anak bekerja di jalan setelah terjadinya krisis ekonomi adalah karena membantu pekerjaan orang tua (35 persen) dan menambah biaya sekolah (27 persen). Pada tahun 2002 jumlah anak jalanan mengalami peningkatan lebih dari 100% dibandingkan angka tahun 1998. Menurut hasil Susenas yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bekerjasama dengan Pusdatin Kesos pada tahun 2002 jumlah anak jalanan melonjak menjadi 94.674 orang. Salah pertanyaan dasar yang kita semua belum bisa mendapat jawaban secara pasti adalah kapan Indonesia bisa terbebas dari fenomena anak jalanan (anak jalanan) meskipun Kementerian Sosial berani membuat pernyataan Indonesia bebas anak jalanan pada tahun 2014 namun kenyataannya menjelang tahun 2014 kita masih bisa melihat secara mudah tanpa ada halangan anak anak melakukan aktivitas ekonomi di jalanan.

Beranjak dari realitas tersebut, Majelis Pelayanan Sosial Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui dukungan Kemitraan dan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Raykat mencoba memberikan kontribusi sosial dalam rangka mengurangi dampak negatif jalanan bagi anak beserta orangtuanya melalui berbagai aktivitas dalam bingkai Peningkatan Kualitas Hidup dan Akses Pelayanan Dasar Anak Yang Bekerja Dijalanan dan Orangtua Anak Yang Bekerja Dijalanan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Peduli.
Ibnu Tsani Program Manager PNPM Peduli memberikan informasi, secara umum konsep dasar program diarahkan kepada memfasilitasi akses hak dasar warga negara seperti akse pendidikan, kesehatan, identitas anak. Selain itu akses sumberdaya ekonomi serta tumbuh kembang anak juga menjadi salah satu fokus isu program. Tantangan terbesar dalam program menurut Ibnu Tsani adalah program yang kami kelola berdasarkan aturan main yang kami kelola adalah dana program tidak bisa dipergunakan untuk modal usaha dan membangun. Selain itu, membangun sinergi dengan Pemerintah Provinsi D.K.I Jakarta terutama terkait akses pelayanan hak dasar juga menjadi tantangan tersendiri. Kami optimis tantangan tersebut bisa diselesaikan.

Jasra Putra Program Officer PNPM Peduli menambahkan informasi, bahwa melalui program yang kami selama setahun bersama 300 anak dan 300 orangtua anak, kami berupaya mengurangi anak beraktivitas dijalanan melalui berbagai kegiatan yang telah disusun seperti pelatihan seni musik, futsal, bimbingan belajar. Sedangkan untuk orangtua anak, selain memfasilitasi akses sumberdaya ekonomi kami mencoba memberikan pemahaman kepada orangtua tentang bahaya anak beraktivitas dijalanan serta bagaimana memahmai pola pengasuhan yang terbaik untuk anak. Pemahaman tersebut kami fasilitasi melalui kegiatan Pelatihan Pengasuhan, Konseling dan Home Visit untuk anak dan orangtua. Untuk mengelola program kami menggandeng dua Rumah Singgah yakni Rumah Singgah Balarenik dan Rumah Singgah SWARA. Lokasi program berada di Cakung dan Jatinegara.

Akses Pendidikan Untuk Anak Yang Bekerja Dijalan dan Orangtua Anak Yang Bekerja Dijalan

Akses_Pendidikan_Untuk_Anak_Yang_Bekerja_Dijalan_dan_Orangtua_Anak_Yang_Bekerja_DijalanTidak ada biaya dan asik dengan aktivitas dijalanan membuat anak jalanan mengalami kendala dalam memenuhi hak dasar atas pendidikan. Berdasarkan alat tersebut MPS PP Muhammadiyah mencoba memberikan akses pendidikan untuk anak jalanan melalui kegaiatan Bimbingan Belajar, Pendidikan Kesatraan dan Ujian Pendidikan Kesetaraan. Kegiatan bimbingan belajar diberikan untuk anak yang masih bersekolah maupun putus sekolah. sedang pendidikan kesetaraan dan ujian kesetaraan untuk anak yang putus sekolah.

Ina Nurjanah Tutor Bimbingan belajar untuk anak, menjelaskan kegiatan bimbingan belajar yang diikuti sebanyak 210 anak, kendala terbesar pada saat kegiatan dimulai adalah tingkat kehadiran dan pengusaan kelas, maklum anak anak sangat hiper aktif dan mereka terbiasa menghabiskan waktu dijalan,namun setelah beberapa kali pertemuan semua bisa diatasi setelah kita mengenal masing-masing karakter anak dan mengadakan permainan ditengah proses belajar. Terkait materi pertemuan Ina mengatakan materi pelajaran disesuaikan dengan jenjang pendidikan anak-anak, pembahasan mata pelajaran adalah mata pelajar yang menjadi mata pelajaran yang diujikan di ujian nasional. Selain itu bimbingan belajar juga menjadi ajang untuk anak membahas pekerjaan rumah anak yang diberikan oleh guru disekolah.

Akses Pendidikan Untuk Anak Yang Bekerja Dijalan dan Orangtua Anak Yang Bekerja Dijalan 01Sementara itu, Eva Tutor Pendidikan Belajar Membaca, Menulis dan Berhitung menjelaskan aktivitas layanan belajar materi yang disampiakan menggunakan pendekatan terkait aktivitas keseharian ibu-ibu. Sebagai contoh kami menggunakan aktivitas belanja dipasar sebagai materi membaca, menulis dan berhitung. Setelah enam bulan belajar, Alhamdulillah ada kemajuan yang cukup siginifikan yakni. Kelompok Dasar, mampu mengenal huruf (8 peserta didik). Mampu membuat dan membaca suku kata (6 peserta didik). Mampu Menulis huruf dan suku kata (8 peserta didik). Mampu mengenal angka dan mampu berhitung penjumlahan dan pengurangan (8 peserta didik). Kelompok Lanjutan. Mampu mengenal huruf (13 peserta didik).

Mampu membuat, membaca suku kata dan kalimat sederhana (13 peserta didik).Mampu menulis huruf dan suku kata serta menyusun kalimat (13 peserta didik). Mampu mengenal angka dan mampu berhitung penjumlahan, pengurangan dan perkalian (13 peserta didik). Kelompok Mandiri (1 Peserta Didik) Mampu mengenal beberapa huruf pada namanya, mampu menulis / menyalin huruf . Mampu membaca beberapa huruf. Mampu menyebutkan dan menyalin bilangan 1 sampai 10.

Endang Mintarja saat ditanya mengapa diadakan kegiatan layanan pendidikan Calistung menjelaskan tersebut diadakan atas usul para orangtua yang memiliki masalah dengan membaca, menulis dan berhitung. Informasi tersebut didapatkan dari Pekerja Sosial pada saat kunjungan kerumah dan proses pendampingan. Khoinurun Nufus Pekerja Sosial Rumah SInggah ditempat terpisah menjelaskan informasi terkait aktivitas pendidikan kesetaraan. Kami mendaftarkan 23 orang jalanan mengikuti ujian kesataraan. Paket A setara SD berjumlah 17 orang, Paket B setara SLTP 5 orang, Paket C setara SMU 1 orang. Dari 23 anak yang mengikuti ujian kesetaraan, ada 4 orang yang tidak lulus, 19 anak dinyatakan lulus dan sedang menunggu proses ijazah. Selain itu, kami juga Mendaftarkan 113 anak yang bekerja dijalanan kelembaga pendidikan non formal melalui program kesataraan Pake A dan B (setara SD dan SMP).

Jaminan Kesehatan Untuk 300 Keluarga Anak Jalanan

Layanan kesehatan merupakan salah satu permasalahan klasik yang masih menjadi daftar masalah dalam kehidupan orang tua anak yang bekerja dijalanan. Menerima layanan kesehatan terutama di rumah sakit bagi orangtua ternyata masih menjadi mimpi yang sulit untuk diwujudkan. Beranjak dari realitas tersebut serta pengalaman, Majelis Pelayanan Sosial PP Muhammadiyah menjadikan akses hak atas dasar kesehatan sebagai salah satu prioritas kegiatan Peningkatan Kualitas Hidup dan Akses Pelayanan Dasar Anak Yang Bekerja Dijalanan dan Orangtua Anak Yang Bekerja Dijalanan.

Endang Mintaraja, Ketua Rumah Singgah Sakinah sekaligus Koordinator Area Program menjelaskan, fokus advokasi akses layanan kesehatan dimulai melakukan pendataan nama-nama kelompok sasaran yang belum mendapatkan layanan jaminan kesehatan lengkap dengan nama anggota keluarga, alamat dan kartu tanda penduduk. Selesai melakukan pendataan tahapan selanjutnya adalah melakukan verifikasi data. Setelah data diselesaikan tahapan berikutnya adalah membawa aspirasi kelompok sasaran program pada Acara Sosialisasi Program.

Sementara itu, Ibnu Tsani Program Manager untuk PNPM Peduli melalui forum Sosialisasi Program yang berlokasi di Gedung Pusat Keguruan Jatinegara Jakarta Timur menyampaikan informasi kepada peserta yang berasal dari unsur Pemerintah Jakarta Timur menyatakan kegiatan Peningkatan Kualitas Hidup dan Akses Pelayanan Dasar yang diperuntukan anak yang bekerja dijalanan dan orangtua anak yang berkerja dijalanan memiliki beragam fokus isu diantaranya pendidikan, kesehatan, sumberdaya ekonomi dan tumbuh kembang anak. Terkait isu kesehatan, Ibnu menyampaikan informasi tentang tekhnis bagaimana agar keluarga anak yang bekerja dijalanan mendapat akses layanan jaminan kesehatan. Suku Dinas Kesehatan Jakarta, unsur pemerintah yang turut hadir dalam acara sosialisasi menjelaskan bahwa wewenang untuk menerbitkan kartu atau sertifikat berada di Dinas Kesehatan Provinsi namun Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur menyatakan siap membantu membuat surat rekomendasi atau menjalin komunikasi terkait keinginan Muhammadiyah.

Menindaklanjuti Informasi dari acara Sosialisasi Program, Jasra Putra Program Officer PNPM Peduli dalam acara Pertemuan Antar Stakeholders memaparkan tentang fokus isu layanan kesehatan dan informasi berdasarkan yang Muhammadiyah dapatkan dari Sudin Kesehatan Jakarta Timur. Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta salah satu peserta kegiatan menjalaskan, siap membantu dan memfasilitasi Muhammadiyah dalam memenuhi akses kesehatan untuk keluarga anak jalanan. Forum Pertemuan Antar Stakeholders kemudian ditindaklanjuti dengan audiensi dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Dari audiensi itu akhirnya didapatkan informasi bahwa ada dua jenis produk kesehatan yang diperuntukan bagi masyarakat. Pertama, JPK GAKIN (Jaringan Pengaman Kesehatan Keluarga Miskin) yaitu akses pelayanan kesehatan yang tidak dibebankan biaya sama sekali. Kedua, Jaringan Pengaman Kesehatan Rentan yaitu akses pelayanan kesehatan yang dibebankan premi sebesar Rp. 50.000/bulan. Pada jenis yang kedua ini, apabila peserta mengalami gangguan kesehatan berat, maka semua biaya pengobatan akan dibayarkan dari premi yang telah terkumpul dan sisanya dilunasi oleh Pemerintah DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan. Setelah audiensi tersebut, Muhammmadiyah menyerahkan data kelompok sasaran program kepada Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Data tersebut menurut pihak Dinas Kesehatan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukan verifikasi karena tidak memiliki data kependudukan, sehingga harus menggunakan data pembanding milik Badan Pusat Statistik.

Setelah menunggu waktu lebih dari enam bulan, untuk mempercepat proses realisasi jaminan kesehatan, Dinas Kesehatan memutuskan untuk mengeluarkan sertifikat piagam kelembagaan pengelolaan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Keluarga Miskin yang langsung ditunjukan kepada Rumah Singgah Sakinah.

Pelatihan Seni Musik Anak Yang Bekerja Dijalanan

Pelatihan_Seni_Musik_Anak_Yang_Bekerja_DijalananMusik, dunia serta kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari keseharian anak yang bekerja dijalanan. Melalui musik, anak berkreatifias, berekspresi hingga alat mencari nafkah. Karena menjadi aktivitas yang tidak bisa dipisahkan dari anak yang bekerja dijalanan, MPS PP Muhammadiyah mencoba menjadikan musik sebagai bagian dari aktivitas peningkatan kualitas dan akses pelayaan dasar bagi anak yang bekerja dijalanan.

Melalui kegiatan musik diharapkan bisa mengalihkan anak atau setidaknya mengurangi aktivitas dijalanan, demikian pernyataan Endang Mintarja Koordinator Area Program. Endang juga menambahkan, pelatihan seni musik diharapkan bisa menjadi ajang bagi untuk meningkatan kemampuan bermusik serta menjadi ajang untuk bisa mengenal karkater antar sesama teman sebaya mereka karena diharapkan anak – anak bisa bergabung bermain musik secara berkelompok (band) sesuai keinginan mereka, singkat kata menurut Endang melalui kegiatan pelatihan musik anak memiliki akses untuk mengasah bakat dan potensi dalam bermusik serta menjadi sarana untuk membangun karakter anak untuk bekerja sebagai sebuah team. Dendi Alfian, pelatih pelatihan musik menyatakan, pelatihan untuk anak terdapat dua tahapan pertama teori dan praktik. Sesi Materi anak diperkenal mengenal bagian dari alat-alat musik, gitar, drum, bass, serta bagiamana memainkan alat-alat musik tersebut serta kunci dan ketukan dasar dari setiap alat musik. Selain teori tentang alat musik, anak yang menjadi peserta pelatihan juga menerima teori tengang olah vokal. Sessi praktik ,anak langsung mempraktikan setiap alat musik sesuai dengan teori yang menerima dapatkan, praktik memainkan alat musik dilakukan secara individu serta berkelompok. Sesi praktik juga dilengkapi dengan setiap anak secara individu serta kelompok memainkan lagu tertentu. Terkait dengan target peserta pelatihan, Dendi menyampaikan pelatihan akan diikuti oleh 300 anak. Dendi juga menyatakan dari pelatihan musik diharapkan bisa dibentuk enam kelompok band, 1 kelompok paduan suara.