logo mps

Lazis Muhammadiyah Luncurkan “Child Centre Indonesia”

LAZIS_Muhammadiyah_Luncurkan_Child_Centre_IndonesiaJakarta – Persoalan anak dan keluarga di Indonesia menjadi salah satu perhatian utama Muhammadiyah. Sebagai bentuk perhatian itu, ormas Islam terbesar kedua di Indonesia ini melalui lembaga pengelolaan zakatnya meluncurkan program ‘Child Centre Indonesia’.

“Program ini merupakan upaya merevitalisasi peran panti asuhan dan untuk merubah pola pikir bahwa anak memiliki hak dasar untuk hidup bersama keluarga,” demikian keterangan pers yang diterima detikRamadan, Rabu (8/8/2012).

Program kerjasama Lembaga Amil Zakat Infak Sedekah Muhammadiyah (LAZISMU) dan Majelis Pelayanan Sosial (MPS) PP Muhammadiyah ini diluncurkan di Aula Gedung Pusat Dakwah PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (7/8).

‘Child Centre Indonesia’ merupakan program yang dibuat berdasarkan penelitian Muhammadiyah-Aisyiyah dan studi kasus bahwa pengasuhan terbaik anak adalah di tengah-tengah lingkungan keluarga. Untuk itu, mengembalikan anak ke keluarga adalah jalan alternatif menempatkan keluarga sebagai tempat terbaik bagi anak.

Sementara tujuan dari program CCI antara lain sebagai perluasan peran panti menuju pusat layanan masyarakat, perubahan paradigma pengasuhan panti menuju pengasuhan berbasis keluarga, pendampingan keluarga rentan untuk meningkatkan kapasitas ekonomi dan parenting skill, dan pengarus-utamaan hak-hak anak di lingkungan pengasuhan.

Program CCI merupakan bentuk kesinambungan dari kegiatan-kegiatan sebelumnya seperti penyusunan SOP panti, pelatihan pengasuh dan pengurus panti, pelatihan relawan, parenting skill kewirausahaan, pembentukan kelompok usaha, dan media kampanye jaringan anak.

Pada tahap pertama sebagai model percontohan, program ini akan dijalankan di Panti Asuhan Muhammadiyah yang berada di Wiyung Surabaya dan Panti Serua Depok pada Februari 2012-Januari 2013. Kegiatan ini juga melibatkan relawan dari Korea dan Koalisi Internasional CWPC (Child Welfare Partners Committee).

Dalam acara ini LAZISMU juga meluncurkan program ‘Adventure for Humanity’. Program ini hasil kerjasama LAZISMU dan K2S (Komunitas Motor Adventure Offroad) Jakarta. Program ini adalah aksi petualangan komunitas motor Offroad yang mengemban misi kemanusiaan untuk berdialog dan berbagi kepada masyarakat yang berada di kawasan pinggiran dan pedalaman.

Fokus utama kegiatan ini juga pada upaya rehabilitasi sarana umum seperti tempat layanan kesehatan, pendidikan anak di usia belajar dan sarana ibadah maupun sanitasi air bersih dan aliran irigasi. Aksi ini akan dimulai pada 12 Agustus mendatang, di pedalaman Desa Leuwi Karet dan Klapa Nunggal khususnya di kampung Cibuntu dan Cioray, Kabupaten Bogor.

Sebagai penutup, acara ini diakhiri dengan kerjasama resmi (MoU) antara LAZISMU dan Tempo dalam bentuk Donasi Pelanggan Tempo. Hasil donasi ini akan disalurkan ke LAZISMU untuk pemberdayaan di bidang ekonomi, kesehatan dan pendidikan.

Bagi Anda yang ingin mendukung program ini dapat berdonasi melalui Bank Mandiri No Rek 103.000.6262626 a.n LAZIS Muhammadiyah CCI, yang nantinya akan disalurkan bagi pengembangan panti, pemberdayaan orangtua anak dan anak panti itu sendiri.

Panti Asuhan Harus Berdayakan Keluarga Anak Tidak Mampu

JAKARTA – Manager Child Centre Indonesia (CCI) Herni Ramdlaningrum menjelaskan, program pemberdayaan dan revitalisasi peran panti asuhan merupakan usaha memenuhi hak-hak dasar anak.

“Peran panti asuhan bukan untuk mencabut hak anak dari keluarganya, tetapi menjadi memberdayakan keluarga,  mengingat pengasuhan terbaik bagi anak adalah di tengah keluarga, dan perlu digaris bawahi, program ini bukan untuk mengkerdilkan peran panti asuhan, malah sebaliknya semakin membuat peran panti asuhan semakin luas di masyarakat,”kata Herni di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, (07/08/2012).

Gerakan ini sebagai bukti konkret dari semua kebijakan anak yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Kemudian, lanjutnya, nanti akan disodorkan hasil dari pilot project yang dilakukan sejak Februari 2012 lalu hingga Januari 2013 mendatang.

“Kita tunjukkan pada pejabat bagaimana mengembalikan hak-hak anak secara utuh sebagai pemberdayaan masyarakat,”ungkap Herni.

CCI memilih memberdayakan anak dan keluarganya agar tak bergantung pada bantuan dari luar. Cara kongkret yang dilakukan ialah membekali pelatihan agar mereka memiliki usaha sendiri hingga keluarga tersebut siap untuk mandiri.

“Aset kita tak sebatas anak asuh tapi juga penguat akar pemikiran anak agar kelak bisa mengasuh anaknya sendiri,”ujarnya.

Program yang telah disusun CCI berbasis data empirik penelitian UNICEF tahun 2009-2010. Tercatat sebanyak 98 persen anak panti masih mempunyai keluarga.

Lalu, 97 persen berkeinginan pulang ke keluarganya. Didapati pula kepadatan penghuni panti terjadi dengan alasan kondisi ekonomi keluarga yang minim.

Di sisi lain, jelas Herni, panti masih bisa dipercaya bisa membangun karakter anak dan tempat rujukan asuh yang bebas dari kekerasan.

Herni menuturkan, sebagai pilot project awal, pihaknya menggandeng dua panti asuhan di Surabaya dan Depok. Sekaligus membina 60 keluarga rentan di sekitar Panti Pakis, Surabaya, dan Pamulang. Biayanya ditanggung dari donatur LAZISMU.

“Rencana lima tahun ke depan, penempatan anak di panti sebagai pilihan terakhir masyarakat mengasuh anaknya,”ujar Herni.

Muhammadiyah Canangkan Pemberdayaan Panti Asuhan

JAKARTA – Majelis Pelayanan Sosial (MPS) serta LAZISMU PP Muhammadiyah meluncurkan program penguatan pemberdayaan anak dan keluarga di 400 panti asuhan lingkungan Muhammadiyah-Aisiyah.

Pasalnya, fakta bahwa Panti asuhan kerap identik dengan tempat penampungan anak-anak yang kurang beruntung. Sudut pandang itu justru menjadikan anak asuhan kurang produktif.

“Child Centre Indonesia (CCI) dibentuk dalam rangka mewujudkan cita-cita besar Muhammadiyah untuk merevitalisasi peran panti asuhan dan usaha memenuhi hak dasar anak,”Terang Ketua PP Muhammadiyah Bidang Sosial Syafiq Mughni di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Selasa (7/8/2012).

Menurutnya, rencana strategis pola pengasuhan sangat diutamakan dalam proyeksi CCI yang dibentuk pertengahan Februari lalu. Sehingga sifatnya bukan hanya penempatan anak-anak atau residensial.

Lebih lanjut, program ini juga memperhatikan aspek lainnya. Seperti pelayanan sosial, ekonomi, dan pendidikan anak serta santunan keluarga yang anaknya berada di panti asuhan.

“Program-program yang dilakukan mengarah pada penguatan keluarga anak panti agar mandiri secara ekonomi dan pengembangan peran panti asuhan agar anak memiliki hak penuh berada bersama keluarganya,”sambut Syafiq.

Ketua MPS PP Muhammadiyah Sularno menjelaskan, perluasan peran panti tadi sekaligus mengubah paradigma pengasuhan panti menuju pengasuhan berbasis keluarga. Bukan terfokus pada anak saja, ujarnya, tapi juga melakukan pendampingan keluarga rentan untuk meningkatkan kapasitas ekonomi dan parenting skill.

“Selain menyusun SOP panti, ada juga pelatihan relawan serta pemberian bantuan modal usaha, berikut media kampanye dan koordinasi jaringan anak,”jelas Sularno.

Sularno menambahkan, MPS dengan jaringan nasional serta internasional juga melakukan pengembangan model pengasuhan dan perluasan lembaga panti asuhan.

Child Centre, Sebuah Upaya Untuk Merevitalisasi Panti Asuhan

Revitalisasi panti asuhan bukanlah untuk membubarkan panti asuhan namun merupakan sebuah upaya untuk menjadikan panti asuhan menjadi lembaga kesejahteraan sosial berbasis masyarakat(community centere). Beranjak dari gagasan tersebut, MPS PP Muhammadiyah dan Lazismuh sepakat melakukan kerjasama program dengan tema Child Centre.

Melalui program Child Centre diharapkan panti asuhan dengan segala asset serta potensi yang dimiliki tidak hanya fokus pada penampungan anak namun bisa menjadi lembaga yang memfasilitasi, merangkul masyarakat disekitar panti asuhan untuk ikut terlibat dalam melakukan kerja – kerja kesejahteraan sosial. Adapun yang menjadi fokus isu kerjasama program adalah pemenuhan hak dasar serta penguatan kapasitas pengasuhan dan ekonomi keluarga anak. Berikut gambaran singkat program child centere.

Goal:

Pengembangan Child Center Indonesia sebagai Pusat layanan Komunitas dalam mendukung pemenuhan hak dan pengasuhan anak berbasis keluarga.

   
Objective 1.

Revitalisasi Peran Panti Asuhan sebagai Pusat Layanan Komunitas

 

Componen Objective 1.

1.1.  Mengembangkan sistem pengelolaan CCI yang sesuai dengan panduan standar Nasional

1.2.  Peningkatan Kapasitas SDM

1.3.  Mengembangkan Jaringan CCI dengan stake holder terkait

1.4.  Diseminasi dan penguatan isu di Media.

 

Kegiatan:

1.1.1.      Perumusan standar operasional prosedur Lembaga Pengasuhan

1.2.1.      Pelatihan Pengasuh dan Pengurus

1.3.1.     Melakukan komunikasi dengan stakeholder terkait untuk mendapatkan dukungan pemenuhan hak anak pengembangan komunitas.

  • Audiensi
  • MOU jaringan

1.4.1.      Membuat dan mendiseminasi media kampanye terkait aktivitas program (dengan menggunakan media Website, Jurnal, Pelibatan media massa dalam setiap event)

  • Isu anak dan pengasuhan anak
  • Isu penguatan keluarga dan komunitas
  • Isu pengembangan Panti menuju CCI

1.4.2.   Mengadakan Event Diseminasi bersama jaringan

Objective 2. Peningkatan kapasitas Pengasuhan Keluarga/komunitas

 

Componen Objective 2.

2.1.Meningkatkan kemampuan Parentingskill kepada orangtua/keluarga

2.2.Pelatihan Life skill bagi orangtua/keluarga anak

2.3.Pembentukan usaha komunitas.

 

2.1.1.   Pelatihan Parenting Skill untuk keluarga dan pengurus Panti.

2.2.1.   Workshop kewirausahaan

2.2.2.   Pelatihan Produksi

2.2.3.      Pelatihan dan rencana distribusi

2.3.1.      Launching kelompok wirausaha.

2.3.2.      Pendampingan kelompok usaha

 

Objective 3. Pembentukan jaringan relawan Componen objective 3.

  1. Pengembangan kapasitas relawan
  2. Pendampingan relawan untuk anak
3.1.1. Pelatihan relawan

3.2.1. kegiatan kerelawanan di Panti

 

KPAI Apresiasi Child Centre Indonesia Gagasan Muhammadiyah

JAKARTA – Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) M Ihsan menyatakan salut atas program Child Centre Indonesia yang di gagas Majelis Pelayanan Sosial dan Lazismu PP Muhammadiyah,  Pasalnya, diakuinya kapabilitas Muhammadiyah mengelola panti asuhan sangat tinggi.

“Kondisi fisik panti Muhammadiyah masih terbanyak dan terbaik diantara yang dikelola ormas lainnya,” ucap Ikhsan.

Maka dia berharap, amanah ini dijaga agar stabil. Lantaran dari data Kementerian Sosial terdapat 4,5 juta anak terlantar. Namun, Kemensos hanya mengalokasikan dana bagi 170 ribu anak. Sisanya diurus ormas seperti Muhammadiyah.

“Masyarakat harus mendukung penuh program pemberdayaan keluarga agar hak-hak anak Indonesia terpenuhi,”ujarnya.

Di kesempatan yang sama, Direktur LAZISMU Chairul Muttaqin dan Ketua Majelis Pelayanan Sosial PP Muhammadiyah Sularno menyerahkan bantuan program keuangan ekonomi bergulir bagi dua panti asuhan pilot project di Wiyung, Surabaya dan Serua, Depok.

Dalam acara ini ikut pula dilantik sekitar 50 relawan yang tergabung dalam Relawan Anak Indonesia (REAKSI). Mereka berasal dari kalangan mahasiswa yang bakal membantu pelayanan pada anak.