Buka Rakernas PP Muhammadiyah, Mendikbud Harap Ada Relawan Ikut Pantau KIP

rakernas mpsppmuhJakarta – Majelis Pelayan Sosial PP Muhammadiyah dan Aisyiyah menggelar Rapat Kerja Nasional. Tema yang diangkat kali ini adalah mengenai konsolidasi panti asuhan Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Rakernas dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy. Dalam pidato pembukaannya, Muhadjir menyampaikan bahwa Kemendikbud sangat serius terhadap masalah pelayanan khususnya di panti sosial.

“Saya sangat concern terhadap masalah pelayanan. Karena itu menjadi tugas saya di Kemendikbud. Karena di sana ada Direktorat PAUD dan Dikmas yang memang berkutat pada masalah pelayanan pada keluarga dan masyarakat,” kata Muhadjir Effendy di Hotel Grand Cempaka, Jalan Letjen R Soeprapto, Jakarta Pusat, Jumat (19/8/2016).

“Karena pelayanan masyarakat sangat luas, yaitu pemberdayaan, ekonomi, serta pendidikan. Sedangkan majelis ini lebih menekankan pada masalah pelayanan sosial,” lanjutnya.

Muhammadiyah, lanjut Muhadjir kini menjadi organisasi Islam yang sudah terkenal namanya. Selain itu banyak hal yang sudah dikerjakan Muhammadiyah dalam bidang pelayanan sosial selama ini.

“Muhammadiyah semakin banyak diberitakan secara birokrasi. Pembagian kerja Muhammadiyah pun semakin luas. Jangan sampai Muhammadiyah menjadi organisasi konglomerasi. Dengan pembagian kerja yang banyak namun tidak menjalin silaturahmi satu dengan yang lain,” ucap Muhadjir.

Saat ini, menurut Muhadjir ada dua hal yang sedang dihadapi oleh Pemerintahan Jokowi-JK. “Yaitu kesenjangan sosial atau gap. Kesenjangan yang bisa juga ekonomi kemudian juga kesenjangan sosial juga kesenjangan pendidikan,” imbuhnya.

Masalah ketenagakerjaan juga menjadi masalah kedua. Namun menurut Muhadjir saat ini pemerintah bisa menekan jumlah pengangguran di Tanah Air.

Muhadjir membandingkan Indonesia dengan Spanyol untuk tingkat pengangguran. Pengangguran di Spanyol kata Muhadjir lebih tinggi dibandingkan Indonesia.

“Kalau Spanyol itu penganggurannya 27 persen, dan itu banyak menghantam sektor-sektor UKM sana. Kalau di sana UKM nya jasa. Seperti tourism bangkrut. Alhamdulillah kita masih bagus 5,5 persen. Tapi oleh Bapak Presiden ini juga masuk jadi ancaman,” tutur Muhadjir.

“Lalu Kartu Indonesia Pintar, bagaimana kartu itu tepat sasaran. Saya senang sekali jikalau Muhammadiyah punya relawan-relawan yang mau membantu memantau penyebaran KIP ini di setiap daerahnya. Namun memang ini tidak ada uangnya. Toh kita sudah terbiasa juga bekerja tanpa uang kan?” tutupnya disambut tawa peserta Rakernas.

Rakernas ini dihadiri oleh ratusan orang dari Organisasi PP Muhammadiyah dan Aisyiyah seluruh Indonesia. Rata-rata mereka berasal dari panti asuhan-panti asuhan binaan Aisyiyah. (yds/bag)

Yudhistira Amran Saleh – detikNews
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *