Kisah Penyelamatan Anak Jalanan Dari Tindak Pidana Perdagangan Manusia

kisah_penyelamatan_anak_jalananMawar dan Melati, panggil saja begitu namanya, mungkin tidak pernah menyangka jika selama mengamen keliling di Metro Mini 506 Jurusan Kampung Melayu-Pondok Kopi, aktivitas mereka di perhatikan oleh seorang supir Mikrolet. Berawal dari tawaran dan bujukan akan dipekerjaan di sebuah kafe di kawasan Kalibata, Mawar dan Melati pun berkenalan dengan pria tersebut. Namun siapa sangka, tawaran tersebut hanya kedok untuk melakukan kejahatan perdagangan manusia. Mawar dan Melati mengalami kejadian terburuk sepanjang hidupnya akibat tergiur mulut manis sang supir.

Sang supir sangat pandai memanfaatkan kepolosan Mawar dan Melati. Dengan tipu muslihatnya, kedua anak tersebut berhasil dipekerjakannya sebagai pramusaji disalah satu kafe di kawasan Muara Angke, Kalijodo. Setelah dipakaikan baju dan celana baru, parfum yang menusuk hidung, dan alat-alat kecantikan lainnya, Mawar dan Melati diperintahkan sang supir untuk menemani tamu minum-minum. Satu minggu pertama bekerja di kafe tersebut, pekerjaan kedua anak baru gede itu hanya menyajikan minuman dan terkadang duduk bareng untuk sekedar menemani tamu ngobrol. Namun setelah satu minggu berlalu, mereka kemudian diminta untuk melayani hasrat seksual para tamu. Meski tidak ada paksaan, namun Mawar dan Melati tidak berani melawan karena selalu dikelilingi dan dipantau oleh team keamanan kafe.

Mendengar kabar dari teman-temannya bahwa Mawar telah dijual ke Kalijodo oleh seorang supir, sang ibu langsung mendatangi kafe di Kalijodo tersebut. Dia berusaha membawa Mawar pulang. Namun upaya tersebut tidak mudah, karena harus membayar sejumlah uang. Setelah bernegosiasi dengan pemilik kafe, Mawar akhirnya berhasil dibawa pulang dengan tebusan Rp. 300.000 dan sebuah telepon genggam milik ibunya.

Setelah membawa Mawar pulang, sang ibu kemudian langsung menceritakan peristiwa ini kepada pengurus Rumah Singgah Sakinah. Mendengar cerita itu, tim pendamping Rumah Singgah Sakinah membawa ibu Mawar ke Komisi Perlindungan Anak Republik Indonesia untuk melaporkan kejadian yang menimpa puterinya. Setelah itu laporan dilanjutkan ke Polres Jakata Timur untuk diproses secara hukum.

Di kantor polisi, Mawar dimintai keterangan oleh petugas, kemudian dilanjutkan dengan visum dan pembuatan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Namun pihak Polres Jakarta Timur kemudian melimpahkan penanganan kasus ini ke Polres Jakarta Utara karena lokasi kejadian perkara berada di Jakarta Utara. Tapi selama diproses di Polres Jakarta Utara kasus ini ternyata tidak mengalami kemajuan. Akhirnya tim pendamping memutuskan untuk melaporkan kejadian ini ke Polda Metro Jaya.

Namun pada saat di kantor Polda Metro Jaya, orang tua Mawar mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Petugas polisi yang menerima laporan memaki orang tua Mawar dengan alasan, jika sudah melaporkan kasus ini ke Polres maka tidak bisa lagi melaporkan ke Polda Metro Jaya. Mungkin prosedur yang ditempuh orang tua Mawar salah, tapi apakah ketidaktahuannya harus berujung dengan makian? Sungguh ironi, jika ketidaktahuan seseorang terhadap prosedur hukum justru berakhir dengan dampratan.

Setelah proses pemberkasan laporan usai, kasus yang menimpa Mawar langsung diserahkan ke Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak. Namun sayang, ditengah perjalanan, karena alasan prosedur penanganan yang berbelit dan malu dengan tetangga karena kejadian yang menimpa anaknya telah menjadi pembicaraan tetangga karena kerap didatangi wartawan, ibu Mawar memutuskan untuk menghentikan perkara tersebut. Tetapi sesungguhnya dia ingin pelakunya segera ditangkap agar tidak muncul korban baru.

Setelah perkaranya dihentikan, pekerjaan rumah berikutnya adalah memastikan agar Mawar bisa kembali hidup normal. Dia harus mendapat pendampingan psikologi agar mentalnya kembali pulih. Alhamdulillah, melalui bimbingan konseling, perlahan tapi pasti Mawar sudah bisa berinteraksi kembali.

Kondisi yang tidak jauh berbeda juga dialami oleh rekan Mawar, Melati. Pada awalnya dia berhasil melarikan diri dari Kalijodo. Dia pun sempat beraktivitas kembali seperti sedia kala. Namun, aktivitasnya selalu dipantau oleh supir tersebut. Ketika mereka bertemu kembali di Pondok Kopi, sang supir memaksanya kembali bekerja di Kalijodo. Melati pun terpaksa menuruti kemauan sang supir karena takut dengan ancamannya.

Begitu mendapatkan kabar dari teman-temannya bahwa Melati diculik supir mikrolet dan dibawa ke Kalijodo, orang tua Melati pun mendatangi Rumah Singgah Sakinah untuk meminta bantuan mengeluarkan anaknya dari tempat tersebut. Tiga orang tim pendamping pun segera mendatangani Polres Jakarta Utara untuk melaporkan kasus yang menimpa Melati, dan mendesak kepolisian agar segera mengeluarkan Melati dari kafe tersebut. Namun setelah seharian melewati proses pemeriksaan perkara, baru keesokan harinya tim pendamping bersama kepolisian dari Polres Jakarta Utara mendatangi kafe yang dimaksud untuk menjemput Melati. Alhamdulillah Melati berhasil dikeluarkan dari lokalisasi tersebut. Dia kemudian dibawa ke Polres Jakarta Utara untuk dipertemukan dengan orang tuanya. Di kantor Polres Melati menjalani proses pemeriksaan dan pembuatan Berita Acara Perkara (BAP). Setelah itu dia pun diserahkan ke orang tuanya.

Ditengah perjalanan pulang, Melati sempat menceritakan pengalamannya selama berada di lokalisasi prostitusi tersebut. Dia sempat meminta tolong kepada polisi dengan cara mendatangi Pos Polisi yang berada tidak jauh dari tempat dia dipekerjakan. Namun polisi tersebut menyatakan tidak sanggup membantunya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *