Kolaborasi MPS PP Muhammadiyah, Kementerian Koordinator Bidang Kesejateraan Rakyat, Kemitraan Untuk Pendampingan Anak Jalanan

Kolaborasi_MPS_PP_Muhammadiyah_Kementerian_Koordinator_Bidang_Kesejateraan_RakyatSalah satu permasalahan sosial yang cukup menyita perhatian seluruh anak bangsa maupun pemerintah adalah fenomena anak yang bekerja di jalanan yang kemudian populer dengan istilah anak jalanan. Hasil Survei dan Pemetaan Sosial Anak Jalanan yang dilakukan oleh Unika Atmajaya Jakarta di 12 Kota Besar di Indonesia pada tahun 1999 menyebutkan jumlah anak jalanan adalah 39.861 orang. Dari hampir 40 ribu anak jalanan tersebut, 48 persen adalah anak-anak yang baru turun ke jalanan sejak tahun 1998 atau setelah terjadinya krisis moneter. Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa populasi anak jalanan sebelum krisis adalah sekitar 20 ribu anak. Berdasarkan survey itu terungkap pula bahwa alasan dari sebagian besar anak- anak bekerja di jalan setelah terjadinya krisis ekonomi adalah karena membantu pekerjaan orang tua (35 persen) dan menambah biaya sekolah (27 persen). Pada tahun 2002 jumlah anak jalanan mengalami peningkatan lebih dari 100% dibandingkan angka tahun 1998. Menurut hasil Susenas yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bekerjasama dengan Pusdatin Kesos pada tahun 2002 jumlah anak jalanan melonjak menjadi 94.674 orang. Salah pertanyaan dasar yang kita semua belum bisa mendapat jawaban secara pasti adalah kapan Indonesia bisa terbebas dari fenomena anak jalanan (anak jalanan) meskipun Kementerian Sosial berani membuat pernyataan Indonesia bebas anak jalanan pada tahun 2014 namun kenyataannya menjelang tahun 2014 kita masih bisa melihat secara mudah tanpa ada halangan anak anak melakukan aktivitas ekonomi di jalanan.

Beranjak dari realitas tersebut, Majelis Pelayanan Sosial Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui dukungan Kemitraan dan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Raykat mencoba memberikan kontribusi sosial dalam rangka mengurangi dampak negatif jalanan bagi anak beserta orangtuanya melalui berbagai aktivitas dalam bingkai Peningkatan Kualitas Hidup dan Akses Pelayanan Dasar Anak Yang Bekerja Dijalanan dan Orangtua Anak Yang Bekerja Dijalanan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Peduli.
Ibnu Tsani Program Manager PNPM Peduli memberikan informasi, secara umum konsep dasar program diarahkan kepada memfasilitasi akses hak dasar warga negara seperti akse pendidikan, kesehatan, identitas anak. Selain itu akses sumberdaya ekonomi serta tumbuh kembang anak juga menjadi salah satu fokus isu program. Tantangan terbesar dalam program menurut Ibnu Tsani adalah program yang kami kelola berdasarkan aturan main yang kami kelola adalah dana program tidak bisa dipergunakan untuk modal usaha dan membangun. Selain itu, membangun sinergi dengan Pemerintah Provinsi D.K.I Jakarta terutama terkait akses pelayanan hak dasar juga menjadi tantangan tersendiri. Kami optimis tantangan tersebut bisa diselesaikan.

Jasra Putra Program Officer PNPM Peduli menambahkan informasi, bahwa melalui program yang kami selama setahun bersama 300 anak dan 300 orangtua anak, kami berupaya mengurangi anak beraktivitas dijalanan melalui berbagai kegiatan yang telah disusun seperti pelatihan seni musik, futsal, bimbingan belajar. Sedangkan untuk orangtua anak, selain memfasilitasi akses sumberdaya ekonomi kami mencoba memberikan pemahaman kepada orangtua tentang bahaya anak beraktivitas dijalanan serta bagaimana memahmai pola pengasuhan yang terbaik untuk anak. Pemahaman tersebut kami fasilitasi melalui kegiatan Pelatihan Pengasuhan, Konseling dan Home Visit untuk anak dan orangtua. Untuk mengelola program kami menggandeng dua Rumah Singgah yakni Rumah Singgah Balarenik dan Rumah Singgah SWARA. Lokasi program berada di Cakung dan Jatinegara.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *