Akses Pendidikan Untuk Anak Yang Bekerja Dijalan dan Orangtua Anak Yang Bekerja Dijalan

Akses_Pendidikan_Untuk_Anak_Yang_Bekerja_Dijalan_dan_Orangtua_Anak_Yang_Bekerja_DijalanTidak ada biaya dan asik dengan aktivitas dijalanan membuat anak jalanan mengalami kendala dalam memenuhi hak dasar atas pendidikan. Berdasarkan alat tersebut MPS PP Muhammadiyah mencoba memberikan akses pendidikan untuk anak jalanan melalui kegaiatan Bimbingan Belajar, Pendidikan Kesatraan dan Ujian Pendidikan Kesetaraan. Kegiatan bimbingan belajar diberikan untuk anak yang masih bersekolah maupun putus sekolah. sedang pendidikan kesetaraan dan ujian kesetaraan untuk anak yang putus sekolah.

Ina Nurjanah Tutor Bimbingan belajar untuk anak, menjelaskan kegiatan bimbingan belajar yang diikuti sebanyak 210 anak, kendala terbesar pada saat kegiatan dimulai adalah tingkat kehadiran dan pengusaan kelas, maklum anak anak sangat hiper aktif dan mereka terbiasa menghabiskan waktu dijalan,namun setelah beberapa kali pertemuan semua bisa diatasi setelah kita mengenal masing-masing karakter anak dan mengadakan permainan ditengah proses belajar. Terkait materi pertemuan Ina mengatakan materi pelajaran disesuaikan dengan jenjang pendidikan anak-anak, pembahasan mata pelajaran adalah mata pelajar yang menjadi mata pelajaran yang diujikan di ujian nasional. Selain itu bimbingan belajar juga menjadi ajang untuk anak membahas pekerjaan rumah anak yang diberikan oleh guru disekolah.

Akses Pendidikan Untuk Anak Yang Bekerja Dijalan dan Orangtua Anak Yang Bekerja Dijalan 01Sementara itu, Eva Tutor Pendidikan Belajar Membaca, Menulis dan Berhitung menjelaskan aktivitas layanan belajar materi yang disampiakan menggunakan pendekatan terkait aktivitas keseharian ibu-ibu. Sebagai contoh kami menggunakan aktivitas belanja dipasar sebagai materi membaca, menulis dan berhitung. Setelah enam bulan belajar, Alhamdulillah ada kemajuan yang cukup siginifikan yakni. Kelompok Dasar, mampu mengenal huruf (8 peserta didik). Mampu membuat dan membaca suku kata (6 peserta didik). Mampu Menulis huruf dan suku kata (8 peserta didik). Mampu mengenal angka dan mampu berhitung penjumlahan dan pengurangan (8 peserta didik). Kelompok Lanjutan. Mampu mengenal huruf (13 peserta didik).

Mampu membuat, membaca suku kata dan kalimat sederhana (13 peserta didik).Mampu menulis huruf dan suku kata serta menyusun kalimat (13 peserta didik). Mampu mengenal angka dan mampu berhitung penjumlahan, pengurangan dan perkalian (13 peserta didik). Kelompok Mandiri (1 Peserta Didik) Mampu mengenal beberapa huruf pada namanya, mampu menulis / menyalin huruf . Mampu membaca beberapa huruf. Mampu menyebutkan dan menyalin bilangan 1 sampai 10.

Endang Mintarja saat ditanya mengapa diadakan kegiatan layanan pendidikan Calistung menjelaskan tersebut diadakan atas usul para orangtua yang memiliki masalah dengan membaca, menulis dan berhitung. Informasi tersebut didapatkan dari Pekerja Sosial pada saat kunjungan kerumah dan proses pendampingan. Khoinurun Nufus Pekerja Sosial Rumah SInggah ditempat terpisah menjelaskan informasi terkait aktivitas pendidikan kesetaraan. Kami mendaftarkan 23 orang jalanan mengikuti ujian kesataraan. Paket A setara SD berjumlah 17 orang, Paket B setara SLTP 5 orang, Paket C setara SMU 1 orang. Dari 23 anak yang mengikuti ujian kesetaraan, ada 4 orang yang tidak lulus, 19 anak dinyatakan lulus dan sedang menunggu proses ijazah. Selain itu, kami juga Mendaftarkan 113 anak yang bekerja dijalanan kelembaga pendidikan non formal melalui program kesataraan Pake A dan B (setara SD dan SMP).

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *